Bridge Over Troubled Water

Name:
Location: Bekasi, Jawa Barat, Indonesia

Wednesday, July 28, 2004

BUMI TETIRAH

Ini sembrani yang kedua sayapnya letih,
sepi menghabiskannya.
Tubuhnya tak lagi putih
nafasnya tak lagi bersih.
Tapi kedua kakinya kadang masih
menapak tanah.
Ada rindu menjejaknya,
kebenaran bahwa bumi ini ada

dengan hidup mati yang lebih nyata.

CINTA SUATU KETIKA

Mengejar luka

Mengejar raksasa

Mengejar fana

Mengejar arang

Mengejar remang-remang

Mengejar syurga

Mengejar haq

Mengejar tajam

Mengejar abu

Mengejar singgasana

            Nafsu

AKU INGIN MENIDURKAN PUISI

Aku ingin menidurkan puisi
Jauh sebelum mesra angin dan daun
            Memeluk benci lagi

Aku ingin menidurkan puisi
Jauh sebelum rindu awan dan matahari
            Mengecup sepi lagi

Jauh sebelum ini

Aku ingin menidurkan puisi

Dalam satu bahasa rindu
yang kumengerti.

KETIKA AKU SAMPAI

Ketika aku sampai
Desak aku menangis
Kenalkan aku pada tanah.

Ceritakan manusiaku
Ceritakan manusia

padaku.

KILAH

Gunung tak punya mau sebenarnya
tak menuntut jadi cantik dan hijau,
mungkin juga tak ingin ditumbuhi
pohonan dan perdu
yang merangsang para pendaki,
atau benar jika letusannya bukan alasan pribadi.
Tapi karena ini kehidupan
yang dihidupi.

Laut tak punya mau sebenarnya
tak menuntut jadi luas dan dalam,
bahkan mungkin menangis,
jika ada yang tenggelam.
Dan barangkali tak ingin didekati matahari
dengan panasnya yang menghasilkan awan,
lalu turun hujan deras dan banjir.
Atau benar jika ia kasihan pada nelayan,
yang tak pernah tenang dalam perahunya.
Tapi karena ini hidup
dalam kehidupan.

Semua kehidupan dihidupi
dan hidup dalam kehidupan
seharusnya hanya keikhlasan.

DAN BINTANG-BINTANG SEMAKIN TERANG

                                                 Mar

Dan bintang-bintang semakin terang,
cahayanya
menembus
dinding kelabu kamarku,
tempat kotak-kotak rindu dipenuhi debu
tempat segenap mimpi dimulai
tempat puluhan bangkai bahtera
mati terurai.

Dan bintang-bintang semakin terang,
memberkas cemerlang dalam jeram
mengusap raga dibumi luka
menghentikan tarian sepi
seketika.


Friday, July 23, 2004

SRI

Tiga warna
Kubisik di telingamu

Dengarkan

Merah
            Milikku
Biru
            Milikku

Dan
Abu-abu

                        Batas rahasia
                        Esok pagi kita


RINDU DALAM KERANJANG SAMPAH

Pagi ini,
entah untuk keberapa kali
rinduku dalam keranjang sampah
tempat lalat dan rayap berpesta
bersama rongsokan,
yang entah bentuknya
dan kotoran,
yang entah baunya.

Aku menari-nari
Menyaksikannya dicubiti rayap
dikelitiki lalat.

Sekarang,
maukah kau kuajak menerima
rinduku yang kotor dan busuk baunya
dalam keranjang sampah
yang amat tak kentara
dan aku sekali waktu
tinggal di dalamnya.

Thursday, July 22, 2004

FATAMORGANA
 
Isi bumi cuma daratan panjang 
 
semua sama,
semua tanah.
 
Semua jalan lurus, 
 
semua rindu
semua suka.
 
Semua binasa
 
fatamorgana!

GENAP
 
Aku ikat kau dan
Kau sumpal seribu
mulutku nanti,
 
dalam garis pertemuan
 
hadiah seorang laki-laki.

RINDU SHUBUH
 
Beranjak dunia,
dari kamar ke beranda
dari hitam ke nila
dari pejam ke angkasa
dari jika ke seandainya.
 
Dari kembang ke pohon jambu
dari fasih ke kelu
dari entah ke ragu.
 
Dari mendung ke biru
dari kosong ke satu
dari getah ke madu.
 
Dari suluh ke sang kala
 
Dari selokan ke samudra.

KELAS 
  
Yang kutahu di ruangan ini, meja-meja dan kursi-kursi
kadang bertanya, atau menegurku satu dua kali.
Tapi dinding-dinding yang paling mengerti, diam.
 
Semakin malam, berisik mereka mengancam.
Kadang merampas angin dari jendela, atau mencuri
bayangan lampu dikaca-kaca.
Dan dinding-dinding yang paling mengerti, diam
 
Suatu malam, berisik mereka menjadi.
Semua di ruangan ini berargumentasi,
meja-meja dan kursi-kursi
berdesak-desak bicara,
garis-garis di lantai
kehilangan irama,  ketika senyummu
memerahbirukan udara.
 
Lalu dinding-dinding yang paling mengerti,
mencubitku
berkali-kali.

ENTAH KERUDUNGMU
 
di ujung kainmu
ingin kusulam satu lukisan
 
bukan tentang keindahan
 
hanya sepotong garis
tebal dan dalam
 
hanya itu yang aku sadari
dan tak pernah kupaksakan
 
untuk kumengerti.

LOVE ??
 
Ingatkan mata
Menatap
 
Hingga berair
Mata
 
Hingga berakhir
Inginmu
Menatap
 
Ingatkan ketika menatap
 
Bibirmu
tak berucap janji.

RINDU SAJA
 
Kabut saja, 
           Turun 
           sendiri
           Pekat
           sendiri 
          Lenyap 
          sendiri. 
 
          Meski semua karena angin 
          Meski rencananya
         bukan milik angin.
 
Pohon saja,
            Tumbuh
            Sendiri
            Berbuah
            Sendiri
            Mati
            Sendiri.
 
            Meski kita menanam sendiri
            Meski sayang kita sirami. 
  
Rindu saja,
            Tumbuh
            Sendiri
            Pekat
            Sendiri
            Berbuah
            Sendiri
 
            Meski luap semua ingin
            Meski sayang kita sirami.
 
            Musnah
            Sendiri.

Tuesday, July 20, 2004

5 MENIT JATINEGARA - KP.MELAYU
 
Jam pejalan kaki
hampir sampai,
patung batu koinonia
melambai-lambai.
 
Apel, semangka
hitung dikaca,
celak hitam
hapus dimata.
 
Ini!
jeruk untukmu
sekantong plastik,
kupetik dari bulan
diatas rambutmu.
 
Sampai ketemu.

MUACH!
 
Aku ingin
beroleh dua
 
satu biru
pada angkasa
 
satu putih
asal peristiwa

HISTERI 
     
            Luka 
            Mulai bulan 
  
            Sudah terbentang





Monday, July 19, 2004

YTH
 
Aku tak tau biru awan
Aku tak paham warna matahari
Aku tak mengerti bulat bulan
 
Aku diam di pagi
Aku diam di malam
 
Aku dikelabui
Aku ditusuk
Aku gelegak

Diracuni