BUMI TETIRAH
Ini sembrani yang kedua sayapnya letih,
sepi menghabiskannya.
Tubuhnya tak lagi putih
nafasnya tak lagi bersih.
Tapi kedua kakinya kadang masih
menapak tanah.
Ada rindu menjejaknya,
kebenaran bahwa bumi ini ada
dengan hidup mati yang lebih nyata.
CINTA SUATU KETIKA
Mengejar luka
Mengejar raksasa
Mengejar fana
Mengejar arang
Mengejar remang-remang
Mengejar syurga
Mengejar haq
Mengejar tajam
Mengejar abu
Mengejar singgasana
Nafsu
AKU INGIN MENIDURKAN PUISI
Aku ingin menidurkan puisi
Jauh sebelum mesra angin dan daun
Memeluk benci lagi
Aku ingin menidurkan puisi
Jauh sebelum rindu awan dan matahari
Mengecup sepi lagi
Jauh sebelum ini
Aku ingin menidurkan puisi
Dalam satu bahasa rindu
yang kumengerti.
KETIKA AKU SAMPAI
Ketika aku sampai
Desak aku menangis
Kenalkan aku pada tanah.
Ceritakan manusiaku
Ceritakan manusia
padaku.
KILAH
Gunung tak punya mau sebenarnya
tak menuntut jadi cantik dan hijau,
mungkin juga tak ingin ditumbuhi
pohonan dan perdu
yang merangsang para pendaki,
atau benar jika letusannya bukan alasan pribadi.
Tapi karena ini kehidupan
yang dihidupi.
Laut tak punya mau sebenarnya
tak menuntut jadi luas dan dalam,
bahkan mungkin menangis,
jika ada yang tenggelam.
Dan barangkali tak ingin didekati matahari
dengan panasnya yang menghasilkan awan,
lalu turun hujan deras dan banjir.
Atau benar jika ia kasihan pada nelayan,
yang tak pernah tenang dalam perahunya.
Tapi karena ini hidup
dalam kehidupan.
Semua kehidupan dihidupi
dan hidup dalam kehidupan
seharusnya hanya keikhlasan.
DAN BINTANG-BINTANG SEMAKIN TERANG
Mar
Dan bintang-bintang semakin terang,
cahayanya
menembus
dinding kelabu kamarku,
tempat kotak-kotak rindu dipenuhi debu
tempat segenap mimpi dimulai
tempat puluhan bangkai bahtera
mati terurai.
Dan bintang-bintang semakin terang,
memberkas cemerlang dalam jeram
mengusap raga dibumi luka
menghentikan tarian sepi
seketika.
SRI
Tiga warna
Kubisik di telingamu
Dengarkan
Merah
Milikku
Biru
Milikku
Dan
Abu-abu
Batas rahasia
Esok pagi kita
RINDU DALAM KERANJANG SAMPAH
Pagi ini,
entah untuk keberapa kali
rinduku dalam keranjang sampah
tempat lalat dan rayap berpesta
bersama rongsokan,
yang entah bentuknya
dan kotoran,
yang entah baunya.
Aku menari-nari
Menyaksikannya dicubiti rayap
dikelitiki lalat.
Sekarang,
maukah kau kuajak menerima
rinduku yang kotor dan busuk baunya
dalam keranjang sampah
yang amat tak kentara
dan aku sekali waktu
tinggal di dalamnya.
FATAMORGANA
Isi bumi cuma daratan panjang
semua sama,
semua tanah.
Semua jalan lurus,
semua rindu
semua suka.
Semua binasa
fatamorgana!
GENAP
Aku ikat kau dan
Kau sumpal seribu
mulutku nanti,
dalam garis pertemuan
hadiah seorang laki-laki.
RINDU SHUBUH
Beranjak dunia,
dari kamar ke beranda
dari hitam ke nila
dari pejam ke angkasa
dari jika ke seandainya.
Dari kembang ke pohon jambu
dari fasih ke kelu
dari entah ke ragu.
Dari mendung ke biru
dari kosong ke satu
dari getah ke madu.
Dari suluh ke sang kala
Dari selokan ke samudra.
KELAS
Yang kutahu di ruangan ini, meja-meja dan kursi-kursi
kadang bertanya, atau menegurku satu dua kali.
Tapi dinding-dinding yang paling mengerti, diam.
Semakin malam, berisik mereka mengancam.
Kadang merampas angin dari jendela, atau mencuri
bayangan lampu dikaca-kaca.
Dan dinding-dinding yang paling mengerti, diam
Suatu malam, berisik mereka menjadi.
Semua di ruangan ini berargumentasi,
meja-meja dan kursi-kursi
berdesak-desak bicara,
garis-garis di lantai
kehilangan irama, ketika senyummu
memerahbirukan udara.
Lalu dinding-dinding yang paling mengerti,
mencubitku
berkali-kali.
ENTAH KERUDUNGMU
di ujung kainmu
ingin kusulam satu lukisan
bukan tentang keindahan
hanya sepotong garis
tebal dan dalam
hanya itu yang aku sadari
dan tak pernah kupaksakan
untuk kumengerti.
LOVE ??
Ingatkan mata
Menatap
Hingga berair
Mata
Hingga berakhir
Inginmu
Menatap
Ingatkan ketika menatap
Bibirmu
tak berucap janji.
RINDU SAJA
Kabut saja,
Turun
sendiri
Pekat
sendiri
Lenyap
sendiri.
Meski semua karena angin
Meski rencananya
bukan milik angin.
Pohon saja,
Tumbuh
Sendiri
Berbuah
Sendiri
Mati
Sendiri.
Meski kita menanam sendiri
Meski sayang kita sirami.
Rindu saja,
Tumbuh
Sendiri
Pekat
Sendiri
Berbuah
Sendiri
Meski luap semua ingin
Meski sayang kita sirami.
Musnah
Sendiri.
5 MENIT JATINEGARA - KP.MELAYU
Jam pejalan kaki
hampir sampai,
patung batu koinonia
melambai-lambai.
Apel, semangka
hitung dikaca,
celak hitam
hapus dimata.
Ini!
jeruk untukmu
sekantong plastik,
kupetik dari bulan
diatas rambutmu.
Sampai ketemu.
MUACH!
Aku ingin
beroleh dua
satu biru
pada angkasa
satu putih
asal peristiwa
HISTERI
Luka
Mulai bulan
Sudah terbentang
YTH
Aku tak tau biru awan
Aku tak paham warna matahari
Aku tak mengerti bulat bulan
Aku diam di pagi
Aku diam di malam
Aku dikelabui
Aku ditusuk
Aku gelegak
Diracuni